RINGKASAN EKSKLUSIF dan ABSTRAKSI PAKET WISATA

“Halimun Lembur Experience adalah suatu kegiatan wisata yang seiring mendapatkan pengetahuan dan atau keterampilan yang dihasilkan dari partisipasi dan interaksi secara langsung antara peserta dan masyarakat lokal dalam sebuah peristiwa atau kegiatan bertani, berkerajinan dan berkesenian yang dilakukan di kampung-kampung dalam gugusan Halimun.””
– Ade Zaenal Mutaqin –

URAIAN

NOMOR PAKET:HALE4D3N.17 | download Itinerary
JENIS:wisata edukasi, wisata agro, wisata budaya dan wisata alam
DURASI:4 Hari 3 Malam
DESTINASI:sawah tersering, seni dan kreatif, pengrajin aren, hutan Halimun
AKOMODASI:Kampung Malasari, Ciwalen, Sijagur, Keramat banteng dan Cibuluh, transportasi urban
MINIMAL PAX:30 orang
INVESTASI:Kirimkan Penawaran

ABSTRAKSI

– trok-tung-dung-prek-trok-dung,
talu-taluan dalam daluang yang menggemakan, menjadi untaian simpony yang sangat menawan sekalipun agak tak beraturan, itulah karya benturan alu dengan lesung yang dimainkan oleh beberapa wisatawan selayaknya sedang melakukan prosesi penumbukan padi 
ini sesi berkesenian “tutunggulan” yang menjadi akhir rangkaian perjalanan wisata edukasi di Malasari dalam edisi paket wisata Halimun Lembur Experience –

Edisi wisata edukasi kali ini berdurasi 4 hari 3 malam dengan konsep Live in; Dalam program kali ini,  tiga (3) kampung di dua (2) desa dengan karakteristik yang berbeda dan unik di setiap kampungnya akan menjadi tempat kegiatan live in.

Tiga Kampung++ untuk kegiatan live in ini berada di sekitar kawasan Taman Nasional dan di kampung enclave Hutan Halimun yang masyarakatnya masih memegang teguh perilaku lokalitas (kearifan lokal). Jarak antar satu kampung dengan kampung lainnya cukup berjauhan kecuali kampung Malasari dengan kampung Sijagur yang dapat ditempuh sekitar 15 menit dengan berjalan kaki melewati pematang sawah terasering 1001 undak,  karena setiap kampung ya berjauhan maka untuk rotasi perpindahan peserta setiap groupnya akan berkonsep “urban transportation” seperti mengendarai ojek, mobil bak terbuka / pickup atau kendaraan lainnya untuk sampai di kampung yang dituju. Kampung-kampung yang menjadi konsentrasi Live in adalah :

  1. Kampung Cibuluh Desa Kiarasari dengan dengan karakteristik utama masyarakatnya yang bertani kebun, hutan dan kerap mengisi waktu luangnya dengan membuat beberapa bentuk kerajinan, terutama kerajinan yang bermaterial dasar bambu.
  2. Kampung Ciwalen Desa Malasari yaitu kampung enclave yang berkarakter agro sawah dan berternak. Dikampung ini ada beberpa keluarga yang membuat gula aren dan mengambil madu hutan.
  3. Kegiatan seni dan budaya akan konsentrasikan di kampung Malasari dan kampung Sijagur, dua kampung ini saling bersebelahan, terletak di Desa Malasari. Kampung yang berkarakter seni dan kental dengan budaya ini merupakan pusat kasepuhan Malasari dan merupakan cikal bakal tempat lahirnya Kabupaten Bogor, Di Malasari inilah pemerintah kabupaten Bogor pertama diselenggarakan pada tahun 1947. Pendopo pemerintahan tempat Bupati pertama memerintah yaitu Ipik Gandamana  masih terjaga dengan baik sampai sekarang dan telah menjadi pendopo sedjarah Kabupaten Bogor.

Kekhususan di kampung Ciwalen, kami akan menyertakan program Pawon Experience (pawan padanan dalam bahasa sunda yang berarti dapur), dimana bentuk kegiatan pawon experience ini semuanya akan berpusat di dapur, walaupun sebagaian besar kegiatannya dilakukan diluar rumah, namun itu semua untuk mendukung kerberlangsungan aktivitas dapur, hal ini karena secara tradisi semua aktivitas masyarakat petani seperti berkebun, berkerajinan itu akan diakhiri di dapur,  beberapa karya seni dan kerajinan tercipta karena aktivitas dapur seperti seni tutunggulan, kerajinan boboko dls. Kegiatan Pawon Experience akan di laksanakan di kampung Ciwalen Desa Malasari.

Gambaran umum paket wisata Live in 4 Hari 3 Malam

Peserta orang akan di bagi menjadi 3 kelompok besar yang masing-masing nya didampingi oleh  2 orang fasilitator Wisata Halimun. Pembagian kelompok akan dilakukan di kampung Keramat Banteng. Pada saat pembukaan kegiatan, akan di pertunjukan kesenian tutunggulan selain opening ceremony, alih otoritas dan pembagian kelompok. Setelahnya, setiap kelompok akan menuju ke kampung-kampung yang yang sudah ditentukan. “Yang seolah tidak di pandu oleh Fasilitator”, setiap kelompok harus dapat menentukan arah menuju kampung dan tempat tinggal penduduk yang sudah ditentukan dengan petunjuk-petunjuk (clue) dan teknik kompas yang sudah diberikan oleh fasilitator wisata Halimun pada saat pembukaan.

Setiap kelompok selama 1 hari 1 malam akan berada di salah satu kampung diantara 3 kampung yang sudah di tentukan diatas. Peserta akan menginap dirumah penduduk dengan pembagian kelompok kecil yang disesuaikan dengan kapasitas dan daya tampung rumah penduduk yang akan ditinggali, pun aktivitas pada siang harinya, para peserta akan mengikuti keluarga yang di tinggali.

Rotasi perpindahan kelompok pada hari kedua dan ketiga akan dilakukan pada sore hari dengan konsep urban transportation, dimana peserta akan menuju kampung kedua atau kampung ketiga yang akan ditinggali dengan menggunakan transportasi  lokal.  Seperti pada hari pertama, hanya bermodalkan clue yang sudah diberikan, peserta tidak akan di pandu oleh fasilitator untuk sampai ke kampung dan rumah penduduk yang dituju.

Dengan metode pergerakan yang sama yaitu urban transportation, Pada hari ke empat, semua peserta akan kembali berkumpul dalam kelompok besar di kampung Keramat Banteng untuk mengikuti General Review, alih otoritas, closing ceremony dan diakhiri sayonara….

trok-tung-dung-prek-trok-dung….., talu-taluan dalam daluang yang menggemakan, menjadi untaian simpony yang sangat menawan sekalipun agak tak beraturan, itulah karya benturan alu dengan lesung yang dimainkan oleh beberapa wisatawan selayaknya sedang melakukan prosesi penumbukan padi, sementara wisatawan lainnya asik menyimak, menikmati dan menari mengikuti irama daluang, sesekali pula beberapa wisatawan berseloroh meminta gantian untuk memainkan talu-taluan, riuh bergemuruh ketika nada yang terlahir begitu sumbang dan riuh penuh tepukan ketika nada yang tercipta mengalun energik menjadi untaian simpony yang menyemangati, itulah sesi berkesenian “tutunggulan” yang menjadi akhir rangkaian perjalanan terakhir paket wisata edukasi di Halimun. Wilujeng paturay tineung, Sayonara…….

Sekilas abstraksi

Hari pertama di kampung Cibuluh : Bercengkarama dalam nuansa kekeluargaan sambil menikmati kudapan khas setelah melepas lelah perjalanan dari kampung Karamat Banteng ke kampung Cibuluh dalam sesi mimitran. Kegiatan selanjutnya adalah berkerajinan,  pada sesi ini akan diawali dengan ngirat (membersihkan, memotong dan mengukur) sebilah bambu, maka dimulailah sesi berkerajinan. Pada sesi ini kelompok laki-laki akan membuat karya anyaman berupa bubu, kempis dan jejer awi, sementara perempuannya membuat hihid, boboko dan asepan. di sela-sela proses kerajinan berlangsung, beberapa peserta perempuan melakukan interaksi rumahan dengan membuat kudapan khas seperti beuleum sampe (bakar singkong) yang selanjutnya disajikan pada semua peserta disela-sela berkerajinan. Setelah sesi kerajinan berakhir dan acara santai pesertapun tidur malam.

Seperti kebiasaan penduduk di kampung Cibuluh yang terbangun pada jam 4.30 pagi hari dengan aktivitas pribadinya, pun peserta akan mengikuti jejak perilaku penduduk dan dilanjutkan sesi macangkrama di dapur. (Mancangkrama adalah satu interaksi dipagi hari sambil makan kudapan dengan merencanakan aktivitas yang akan dilakukan sepanjang hari kedua, perilaku mancangkrama bagi penduduk Cibuluh merupakan bercengkrama dengan keluarga dan tetangga sekitar rumah pada pagi hari sebelum melakukan aktivitas)

Aktivitas Macangkrama pada paket wisata Halimun Lembur Experience merupakan sesi berbagi pengalaman dan perencanaan. Dalam sesi ini, tuan rumah akan menginformasikan aturan lembur dan aturan kegiatan untuk di ikuti selama kegiatan hari kedua berlangsung. “Welcome to the junggle”, mungkin inilah tema yang mewakili gambaran aktivitas di hari kedua kegiatan dengan mengajak peserta telusur hutan untuk menyadap pohon aren (Arenga pinnata).

Dengan berbekal lodong bambu, peserta diajak menelusur jalanan setapak dibawah rimbunnya formasi tajuk tegakan guna mencapai area yang ditumbuhi banyak pohon aren. Tibalah di tempat yang dimaksud, lelah dan dahaga akan terbalas oleh tegukan demi tegukan segarnya nira yang sudah diturunkan dari pohonnya, sambil menikmati lahang dan sejuknya hutan, peserta diperlihatkan proses “ngalahang” secara adat, setelahnya baru diajak berdiskusi tentang morfologi tumbuhan beserta kegunaan lain yang dapat diambil dari pohon tersebut. Dengan menggendol lodong berisi lahang, tibalah peserta di rumah yang ditinggali, lahang dalam lodong-pun segera dituang kedalam sebuah koali besar yang sudah disiapkan sebelumnya untuk dimasak menjadi gula aren. Pada jam 16.00 peserta bersiap untuk menuju kampung kedua yaitu kampung Malasari dengan karakter seni dan budaya…(bersambung )

GET YOUR EXPERIENCE

NGALAHANG

INTERAKSI BUDAYA

INTERAKSI AGROWISATA