Kami bukan orang baduy, kamimah urang kanekes !

Bogor, Wisata halimun – sebagai salah satu daya tarik wisata ke perkampungan baduy adalah kealamian alam dan masyarakat yang sangat menjungjung tinggi nilai-nilai harmonisasi dalam keterpaduan antara manusia, hutan dan lingkungan nya. Budaya baduy yang kuat memegang teguh nilai-nilai leluhur merupakan benteng utama dunia luar tidak memiliki kekuatan intervensi terhadapat komunitasnya.

Kalimat Baduy dalam satu versi awalnya merupakan sebutan para peneliti Belanda yang mempersamakan gaya kehidupan nomaden komunitas ini seperti masyarakat arab baduwi yang hidupnya berpindah pindah, versi lainnya dikarenakan dalam wilayah komunitas mereka terdapat gunung Baduy dan sungai Baduy. Namun pada kalangan komunitas mereka sendiri menyebutnya dengan sebutan orang kanekes atau urang kanekes dalam bahasa sunda pun urang Cibeo yang mengacu pada nama kampung yang di tempati.

Bila merujuk pada naskah kuno Koropak 630 Sanghyang Siksakandang Karesian, orang Baduy berasal pada pendeta (wiku) yang mengamalkan Jatisunda. Sisa dari kabuyutan Jatisunda adalah Sasaka Domas yang berada di wilayah Baduy dalam dan menjadi pusat “dunia”-nya orang Baduy pun ada pendapat lain bahwa orang Baduy diperkirakan berasal dari keturunan Kerajaan Pajajaran yang melarikan diri ke Gunung Kendeng akibat diserang oleh kerajaan Islam dari Banten dan Cirebon (sumber : uun-halimah)

“Dikisahkan bahwa Prabu Pucuk tidak mampu menghadapi tentara kerajaan Cirebon pada penyerangan ke istana Kerajaan pajajaran, dia dan beberapa mentri kerajaan serta pasukan nya melarikan diri ke hutan, bersembunyi di balik gunung dan jurang. Berbulan-bulan bahkan menahun mereka menghindar dari tentara penyerang. Akhirnya Prabu Pucuk beserta rombongan yang sedang melarikan diri pun tiba di sebuah hutan perawan yang padat vegetasinya yang disebut Mandala Singkah, disitulah mereka berhenti dan tempat pertama mereka berhenti disebut Panembahan Arca Domas, terletak di hulu sungai Ciujung.” Kisah yang berkembang ini menceritakan tentang asal leluhur urang kanekes.

Penampilan urang kanekes secara fisik maupun bahasa menyamai dengan masyarakat sunda pada umumnya, dengan sedikit perdedaan yaitu pada kepercayaan dan cara hidup. orang kanekes menutup diri rapat-rapat dari pengaruh luar serta menjungjung tinggi budaya leluhur yang di wariskan dari karuhun nya yaitu prabu pucuk dari kerajaan pajajaran.

Kepribadian nya sangat menarik, kulit tubuh dan panggung mereka berwarna kekuningan, terlihat lurus, tidak pernah tertawa atau bercanda, terlihat arogan namun rendah hati, jujur, memiliki prinsip yang kuat tapi tidak keras kepala, tidak mudah untuk dipengaruhi atau dibujuk, tetapi tidak pernah memberi masalah untuk yang lainnya.

Terdapat dua kelompok besar dalam masyarakat Kanekes yaitu Baduy dalam dan Baduy Luar.  Orang Baduy tinggal di kampung tangtu telu, desa Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Baduy dalam sangat memegang teguh prinsip nenek moyang dan hidup dengan cara-cara tradisional, Baduy dalam dianggap sebagai pelindung keseimbangan alam dengan merawat hutan, sungai, dan gunung-gunung sehingga manusia dapat hidup secara harmonis dengan Bumi. Enjoy the heart of Java ecotourism

Keywords : tempat wisata, paket wisata, perjalanan wisata, obyek wisata, desa wisata, wisata alam, ekowisata, destinasi wisata, penginapan, camping ground, flying camp, taman nasional

Baduy dalam

kampung 3 utama

Baduy Dalam, merekalah yang masih memegang aura magis adat Leluhur Sunda. Suasana hening nan tenang, gelap tanpa gemerlap modernisasi dipertahankan suku Baduy Dalam untuk menciptakan sebuah lukisan kehidupan yang damai dan tentram. Pakem adat yang dijunjung tinggi oleh suku Baduy Dalam, nilai etnik yang eksotik lagi bernyawa dan kearifan lokal yang kental masih berdenyut kencang di jiwa Urang Kanekes.

Baca lebih lanjut

Baduy luar – Cicakal

Kampung pelestari kerajinan

Lembur Baduy Luar yang dibagi menjadi Cicakal Muara dan Cicakal Leuwi Bulud ini merupakan tempat tinggal pelestari kerajinan alat musik tradisional sunda. Penghasil kriya etnik Baduy asli yang lain seperti karinding, kecapi, rendo, celempung, suling dan alat musik tradisional Sunda lainnya. buah karya tangan terampil ini dijual di Babakan Jaro. Urang Kanekes di Cicakal memahat simphoni di atas kayu dan bambu.

Baca lebih lanjut

Baduy luar – kadu ketug

Tua nan eksotik

Jalan setapak berbatu, rumah panggung beratap daun Kirai serta berdinding bilik bambu tanpa hiasan warna dan lorong atau jalan kecil dari sekatan antara rumah satu dengan rumah lain tampak seragam di lembur Kadu Ketug. Ada kesan tua nan eksotik di lembur Baduy Luar ketiga dari Ciboleger ini. Komplek Leuit atau lumbung padi di ujung lembur menandakan masih hadir peradaban Sunda kuno di tanah Kanekes.

Baca lebih lanjut

Baduy luar – Cipondok

Ambu yang bertenun

Posisinya yang di tengah dan berdekatan dengan lembur Babakan Jaro dan Kedu Ketug serta menjadi jalur perlintasan orang Baduy Luar. Aktifitas Urang Kanekes di lembur Cipondok ini terasa kental. Kelakar bocah Baduy Luar sekali – kali bersautan dengan suara alat tenun ambu-nya. Sinar matahari merambat di atas anyaman bilik bambu, perlahan naik dan menyorot geliat kearifan lokal yang elok di Cipondok.

Baca lebih lanjut

Baduy luar – Gajeboh

Sentral wisata Baduy

Sentral wisata di pedalaman Baduy Luar salah satunya ada di Gajebo. Bentang alam yang menyelimuti suasana etnik magis di lembur Gajebo ini menjadi magnet wisatawan. Jembatan bambu sepanjang 24 meter yang ditopang 2 pohon Angsa berumur ratusan tahun membentang anggun di atas Sungai Cihujung. Geliat kearifan lokal yang ramah memberi sentuhan damai lagi harmonis bagi hati yang singgah di lembur Gajebo.

Baca lebih lanjut

Baduy luar – Babakan Jaro

Lembur terdepan

Sampurasun. Selamat datang di Baduy. Jalan setapak berbatu, komplek rumah panggung suku Baduy, segala hasil bumi dan kriya etnik asli suku Baduy akan langsung menculik perhatian wisatawan ketika melihat lembur Babakan Jaro. Menjadi pusat berniaga dan pusat pemerintahan, lembur Baduy Luar paling depan yang berbatasan langsung dengan Ciboleger ini pun dijadikan sentral wisata etnik Baduy Kanekes.

Baca lebih lanjut

Baduy luar – Marengo

Yang berhias batu berlumut

Jembatan bambu yang melintang di atas Sungai Cidandang menghiasi muka depan lembur Marengo. Sungai Cihujung yang lebar terlihat jelas mengalir lembut di pinggiran lembur Baduy Luar kelima dari Ciboleger ini. Ratusan tahun lamanya pohon Durian dengan batang besar lagi tinggi menjulang telah banyak tersebar di tanah Marengo. Batu pondasi yang berlumut turut menegaskan tuanya keberadaan lembur Marengo.

Baca lebih lanjut

Baduy luar – Cipaler

Laksana taman bambu

Lembur Cipaler laksana taman bambu raksasa. Awi Gede yang berumur tua dan menjuntai tinggi mengitari pemukiman Baduy Luar ini. Tumbuhan Kirai yang daunnya biasa digunakan untuk pelindung atap rumah, tumbuh sebagai penghias aura magis nan eksotik. Lansekap komplek rumah panggung yang berada di tengah hutan tua ini menjadi salah satu lukisan hasil kebudayaan peradaban kuno yang dimiliki Urang Kanekes.

Baca lebih lanjut

Baduy luar – Bungur

Lembur pembatas

Pemukiman Baduy Luar yang paling muda sekaligus menjadi lembur yang paling dekat dengan wilayah Baduy Dalam yang sarat kesakralan adat leluhur bila ditempuh dari Ciboleger ini adalah Cepak Bungur. Dihubungkan jembatan bambu melintang di atas Sungai Cihujung yang menjadi sekat antara Baduy Luar dan Baduy Dalam, Cepak Bungur hadir menjadi gerbang terakhir untuk menuju peradaban Urang Kanekes yang kuat.

Baca lebih lanjut