Membangun Wisata Danau Toba Dengan Prinsip Wisata Ramah

seminar nasional pariwisata indonesia

Membangun Wisata Alam Danau Toba dengan Mengusung Prinsip Wisata Ramah

Siapa yang tak kenal dengan danau Toba. Danau purba yang menjadi kaldera volkano-tektonik (kawah gunung api raksasa) Kuarter terbesar di dunia ini terbentuk sejak 75.000 tahun lalu karena letusan supervolcano. Menyimpan segala keunikan serta keindahan, danau Toba ditunjuk oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia sebagai 10 destinasi wisata andalan Indonesia.

Tak sekadar menjadi magnet bagi para pelancong atau wisatawan domestik maupun mancanegara. Pesona danau Toba sekaligus bersama pengembangan pariwisatanya telah menarik perhatian para pihak yang berkecimpung ataupun yang mendukung dunia pariwisata. Hal tersebut terlihat oleh Wisata Halimun saat menghadiri sekaligus dipercaya sebagai salah satu pemateri dalam Konferensi Nasional yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Administrasi Bisnis (IMABI) di Universitas Sumatera Utara, Medan pada tanggal 25 Juli 2017 lalu.

Dimana kekayaan alam, budaya dan kearifan lokal yang ditampung oleh danau Toba itu sendiri menjadi landasan yang harus diperhatikan bersama. Sehingga Agung Nugroho (Wakil Ketua Bidang Kerjasama Asosiasi Ikatan Administrasi Bisnis Indonesia), Ade Zaenal Mutaqin(praktisi pariwisata Indonesia, CEO PT Highland Indonesia dan founder Wisata Halimun), Nurlisa Ginting (Ketua Pokja Pariwisata Danau Toba) dan  Koko Sujatmoko (Dosen Jurusan Pariwisata USU) sebagai para pembicara dalam konferensi nasional tersebut  bertemu dalam satu titik persamaan dalam pengembangan pariwisata danau Toba yakni nilai yang keberlanjutan.

“Pembangunan atau pengembangan pariwisata di danau Toba mesti berpegang teguh kepada nilai-nilai kebaikan yang berkesinambungan, disini kami Wisata Halimun menyebutnya dengan istilah Wisata Ramah” tutur Ade Zaenal yang menjadi pemateri Konferensi nasional tersebut. Selain itu tiga sahabat Wisata Halimun lainnya, yakni  Erik Prasetya (Pimpinan Wisata Halimun), E.G Klimanjaro (Marketing PT Highland Indonesia) dan Muhamad Faizal Mardianysah (Promosi dan Publising Wisata Halimun) turut memberi saran-saran pada meja diskusi.

Wisata Ramah sendiri merupakan bentuk pariwisata yang menitik beratkan keberlanjutan lingkungan dan keberkahan pada masyarakat di sekitar Obyek dengan Daya Tarik Wisata (ODTW) serta menyangkut (concern) pada aktivitas wisata minat khusus. Dimiliki dan dilakukan oleh masyarakat pemilik kearifan lokal, pemilik lingkungan dan pemilik sosial budaya guna memenuhi sensasi dan minat terdalam wisatawan dalam aktivitas pariwisata. (oleh Ade Zaenal Mutaqin dalam Konferensi Nasional tentang pengembangan wisata alam danau Toba pada 25 Juli 2017 di Universitas Sumatera Utara, Medan).

“Sudah sepatutnya kebermanfaatan dari geliat pariwisata alam Indonesia, khususnya sekarang ini adalah danau Toba, harus dinikmati oleh pemilik kebudayaan, pemilik kekayaan alam dan pemilik kearifan lokal itu sendiri yang berarti adalah masyarakat yang langsung ataupun tidak langsung turut aktif memajukan danau Toba lewat pariwisata. Tak luput, pun alam dan lingkungan harus merasakan kebaikan yang berkelanjutan dari aktifitas wisata di danau Toba itu sendiri” tambah Ade di depan delegasi IMABI yang berasal dari 16  universitas seluruh Indonesia.

Baca juga : Seminar Nasional Universitas Sumatera Utara ; Potensi Bisnis Wisata Alam Danau Toba

Dalam kesempatan yang sama, Nurlisa Ginting menyorot pembangunan konsep wisata di danau Toba.

“Kami sedang terus mengusahakan agar danau Toba dapat masuk ke dalam anggota UNESCO Global Geopark (UGG). Hal ini selaras dengan pengembangan pariwisata danau Toba yang ke arah geotourism.” tutur Nurlisa yang menyebutkan juga bahwa danau Toba memiliki geodiversitas atau kekayaan jenis bebatuan yang unik tersebut patut untuk diperhitungkan oleh dunia.

“Kami berharap dalam pengembangan pariwisata di danau Toba dengan konsep geotourism dapat meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat di danau Toba. Sehingga saya rasa, pendekatan pembangunan hotel-hotel mewah, resort dan hal lainnya yang tidak begitu pro terhadap masyarakat dan lingkungan maka tidak tepat untuk danau Toba.” tegas ketua Pokja Pariwisata Danau Toba itu.

Hal tersebut sepaham dengan yang telah dicanangkan oleh Wisata Halimun, bahwasanya pengembangan wisata alam lebih tepat dilakukan dengan pembangunan desa wisata. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar potensi wisata alam terdapat di wilayah desa. Sehingga pendekatan communitty based tourism serta pakem collaborative management harus dijalankan dalam pembangunan wisata danau Toba.

Dalam kesimpulannya, Ade menyampaikan “membangun potensi bisnis wisata alam Indonesia yang sebagian besar tersebar di wilayah perdesaan dengan keberpihakan alam, lingkungan, sosial masyarakat, budaya dan kearifan lokal yang menyelimutinya harus dilakukan secara harmonis, berlandaskan kerendahan dan keikhlasan hati serta kebijaksanaan pikiran untuk bergerak dan bertindak.”

Memang sudah sepatutnya, istilah destinasi 10 bali baru yang didengungkan oleh pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini berarti Kementrian Pariwisata harus berpihak kepada masyarakat serta alam dan lingkungannya. Kekayaan serta kebermanfaatan dari sumber daya alam, lingkungan, udaya, dan kearifan lokal harus dapat dirasakan oleh generasi-generasi mendatang.

seminar nasional pokja pariwisata toba
Sahabat Wisata Halimun bercengkrama dengan Ibu Nurlisa Ginting selaku  Pokja Pariwisata Danau Toba di Universitas Sumatera Utara

 

“Salam Wisata Ramah… Eta Pisan!

Leave a Reply

Your email address will not be published.